ADAPTASI PETANI DALAM MENGHADAPI BENCANA KEKERINGAN DI DESA BERGOLO KECAMATAN NGAWEN KABUPATEN BLORA
Abstract
Abstrak: Kekeringan merupakan bencana hidrometeorologi yang mempengaruhi ekosistem pertanian, terutama di wilayah dengan daya simpan air rendah. Desa Bergolo, Kecamatan Ngawen, Kabupaten Blora termasuk wilayah yang rentan terhadap kekeringan berulang. Penelitian ini bertujuan menganalisis kondisi kekeringan, mengidentifikasi adaptasi pengelolaan lahan oleh petani, serta mengetahui tingkat adaptasi struktural dan non-struktural. Penelitian menggunakan pendekatan deskriptif kuantitatif melalui survei terhadap 93 petani yang dipilih dengan proporsional random sampling. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara, kuesioner, dan dokumentasi, kemudian dianalisis menggunakan skoring skala Likert. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kekeringan menurunkan ketersediaan air irigasi dan hasil panen. Adaptasi dilakukan melalui strategi struktural seperti pipanisasi, pompa air, sistem irigasi, dan sumur jobin, serta strategi non-struktural berupa penyesuaian pola dan waktu tanam, diversifikasi tanaman, penggunaan varietas yang sesuai, dan pengelolaan udara yang efisien. Adaptasi struktural berada pada kategori sedang (56,99%) dan tinggi (43,01%), sedangkan adaptasi non-struktural didominasi kategori tinggi (91,40%). Temuan ini menunjukkan bahwa kapasitas adaptif petani lebih kuat pada penyesuaian praktik budidaya dibandingkan penguatan infrastruktur pengelolaan udara.
Abstrak: Kekeringan merupakan bahaya hidrometeorologi yang memengaruhi keberlanjutan sistem pertanian, khususnya di daerah dengan kapasitas retensi air yang rendah. Desa Bergolo, Kecamatan Ngawen, Kabupaten Blora rentan terhadap kejadian kekeringan berulang. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kondisi kekeringan, mengidentifikasi strategi adaptasi pengelolaan lahan petani, dan menguji tingkat adaptasi struktural dan non-struktural. Pendekatan kuantitatif deskriptif digunakan dengan menggunakan survei terhadap 93 petani yang dipilih melalui pengambilan sampel acak proporsional. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara, kuesioner, dan dokumentasi, dan dianalisis menggunakan teknik penilaian skala Likert. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kekeringan mengurangi ketersediaan air irigasi dan hasil panen. Petani menerapkan adaptasi struktural seperti jaringan pipa, pompa air, sistem irigasi, dan sumur bor, serta adaptasi non-struktural termasuk penyesuaian pola tanam dan jadwal tanam, diversifikasi tanaman, pemilihan varietas yang tepat, dan pengelolaan air yang efisien. Adaptasi struktural berada pada kategori sedang (56,99%) dan tinggi (43,01%), sedangkan adaptasi non-struktural sebagian besar tinggi (91,40%). Temuan ini menunjukkan bahwa kapasitas adaptasi petani lebih kuat dalam menyesuaikan praktik budidaya daripada dalam memperkuat infrastruktur pengelolaan air.
Keywords
Full Text:
PDFDOI: https://doi.org/10.31764/geography.v14i1.38804
Refbacks
- There are currently no refbacks.

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.
GEOGRAPHY : Jurnal Kajian Penelitian & Pengembangan Pendidikan
Email: [email protected] | p-ISSN 2339-2835 | e-ISSN 2614-5529
EDITORIAL OFFICE:


