Inovasi Teknologi Penanganan Pascapanen Pala (Myristica Fragrans Houtt) Untuk Mitigasi Kontaminasi Aflatoksin Guna Mendukung Ketahanan Pangan Dan Hilirisasi Agroindustri Di Provinsi Maluku

Edwen D. Waas, Rein S. Senewe, A. Kastanya, A.S. Mahulette, Sheny S. Kaihatu, Risma F. Suneth

Abstract


Indonesia merupakan pemasok pala terbesar dunia, namun penolakan berulang oleh Uni Eropa akibat kontaminasi aflatoksin mengancam daya saing sistem produksi pala berbasis petani kecil, khususnya di Provinsi Maluku. Penelitian ini mengkaji praktik penanganan pascapanen dan tingkat kontaminasi aflatoksin di sepanjang rantai pasok pala untuk mengevaluasi penerapan Peraturan Menteri Pertanian No. 53/2012 tentang Good Handling Practices. Metode survei deskriptif kualitatif dipadukan dengan analisis laboratorium (HPLC) dilakukan pada sebelas titik sampel di enam kabupaten/kota, melibatkan petani, pengumpul desa, dan eksportir. Dari 28 sampel biji pala yang dianalisis, tiga sampel terindikasi tercemar aflatoksin dengan nilai 13,7–3.882 µg/kg, jauh di atas ambang Uni Eropa sebesar 10 µg/kg, dan ketiganya berasosiasi dengan kadar air tinggi (14–27%) akibat proses pengeringan yang belum tuntas. Sebaliknya, sampel kualitas ekspor secara konsisten menunjukkan kadar aflatoksin total di bawah 2,0 µg/kg. Tahap pengeringan di tingkat petani dan penyimpanan di tingkat pengumpul teridentifikasi sebagai titik kepatuhan paling lemah, terutama akibat terbatasnya fasilitas pengering dan gudang penyimpanan pada musim hujan. Temuan ini menegaskan perlunya teknologi pengeringan yang terjangkau dan adaptif terhadap iklim, perbaikan fasilitas penyimpanan, serta penguatan kapasitas petani untuk menjamin keamanan pangan, menekan kehilangan hasil pascapanen, dan mempercepat hilirisasi agroindustri pala di tengah variabilitas iklim yang semakin meningkat.


Keywords


pascapanen pala; kontaminasi aflatoksin; Good Handling Practices; ketahanan pangan; hilirisasi agroindustri;

References


Ashiq, S., Hussain, M. and Ahmad, B. (2014) 'Natural occurrence of mycotoxins in medicinal plants: A review', Fungal Genetics and Biology, 66(5), pp. 1–10.

Badan Standardisasi Nasional (1993) Mutu Biji Pala. SNI 01-0006-1993. Jakarta: BSN.

Badan Standardisasi Nasional (1993) Mutu Pala. SNI 01-0007-1993. Jakarta: BSN.

Badan Standardisasi Nasional (2009) Batas Maksimum Kandungan Mikotoksin dalam Pangan. SNI 7385:2009. Jakarta: BSN.

Badan Standardisasi Nasional (2015) Pala. SNI 0006:2015. Jakarta: BSN.

Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia (2009) Peraturan Kepala Badan POM RI Nomor HK.00.06.1.52.4011 Tahun 2009 tentang Penetapan Batas Maksimum Cemaran Mikroba dan Kimia dalam Makanan. Jakarta: BPOM RI.

Badan Pusat Statistik Provinsi Maluku (2021) Kota Ambon dalam Angka. Ambon: BPS Provinsi Maluku.

Badan Pusat Statistik Provinsi Maluku (2021) Kabupaten Maluku Tengah dalam Angka. Ambon: BPS Provinsi Maluku.

Badan Pusat Statistik Provinsi Maluku (2021) Kabupaten Buru dalam Angka. Ambon: BPS Provinsi Maluku.

Badan Pusat Statistik Provinsi Maluku (2021) Kabupaten Buru Selatan dalam Angka. Ambon: BPS Provinsi Maluku.

Badan Pusat Statistik Provinsi Maluku (2018) Kabupaten Seram Bagian Timur dalam Angka. Ambon: BPS Provinsi Maluku.

Badan Pusat Statistik Provinsi Maluku (2020) Kabupaten Seram Bagian Barat dalam Angka. Ambon: BPS Provinsi Maluku.

Codex Alimentarius Commission (2003) Hazard Analysis and Critical Control Point (HACCP) System and Guidelines for its Application. Maryland: CAC.

Codex Alimentarius Commission (2014) Code of Hygienic Practice for Spices and Dried Aromatic Herbs. Maryland: CAC.

Direktorat Jenderal Perkebunan (2018) Statistik Perkebunan Indonesia: Pala. Jakarta: Kementerian Pertanian RI.

European Commission (2004) Regulation (EC) No 852/2004 on the Hygiene of Foodstuffs. Brussels: European Commission.

European Commission (2010) Commission Regulation (EU) No 165/2010 of 26 February 2010 amending Regulation (EC) No 1881/2006 setting maximum levels for certain contaminants in foodstuffs as regards aflatoxins, Official Journal of the European Union, L50/8-L50/12.

European Commission (2014) RASFF Portal. Available at: https://webgate.ec.europa.eu/rasff-window/portal (Accessed: 7 October 2014).

Ezekiel, C.N., Fapohunda, S.O., Olorunfemi, M.F., Oyebanji, A.O. and Obi, I. (2013) 'Mycobiota and aflatoxin B1 contamination of Piper guineense (Ashanti pepper), P. nigrum L. (black pepper) and Monodora myristica (calabash nutmeg) from Lagos, Nigeria', International Food Research Journal, 20(1), pp. 111–116.

Hariyadi, P. (2007) 'Pangan dan daya saing bangsa', in Hariyadi, P. (ed.) Upaya Peningkatan Keamanan, Mutu, dan Gizi Pangan melalui Ilmu dan Teknologi. Bogor: SEAFAST Center IPB.

International Agency for Research on Cancer (2002) Some Traditional Herbal Medicines, Some Mycotoxins, Naphthalene and Styrene. IARC Monographs Vol. 82. Lyon: IARC.

International Organization for Standardization (2002) Nutmeg, Whole or Broken, and Mace, Whole or in Pieces (Myristica fragrans Houtt) – Specification. ISO 6577. Geneva: ISO.

Kementerian Pertanian Republik Indonesia (2009) Peraturan Menteri Pertanian Nomor 44/Permentan/OT.140/10/2009 tentang Pedoman Penanganan Pascapanen Hasil Pertanian Asal Tanaman yang Baik (Good Handling Practices). Jakarta: Kementan.

Kementerian Pertanian Republik Indonesia (2012) Peraturan Menteri Pertanian Nomor 53/Permentan/OT.140/9/2012 tentang Proses Penanganan Panen dan Pascapanen Pala dan Fuli. Jakarta: Kementan.

Kementerian Pertanian Republik Indonesia (2014) Statistik Pertanian 2014. Jakarta: Kementan.

National Grain and Feed Association (2011) NGFA Feed/Grain Mycotoxin Guidance. Washington DC: NGFA.

Nurdjannah, N. (2007) Teknologi Pengolahan Pala. Jakarta: Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pascapanen Pertanian.

Okano, K., Tomita, T., Ohzu, Y., Takai, M., Ose, A., Kotsuka, A., Ikeda, N., Sakata, J., Kumeda, Y., Nakamura, N. and Ichinoe, M. (2012) 'Aflatoxins B and G contamination and aflatoxigenic fungi in nutmeg', Shokuhin Eiseigaku Zasshi, 53(5), pp. 211–216.

Pooja, B.M., Sowmini, S., Madhurima, B.P., Farid, W. and Kiran, K.S. (2015) 'Biotechnological advances for combating Aspergillus flavus and aflatoxin contamination in crops', Plant Science, 234, pp. 119–132.

Rismunandar (1992) Budidaya dan Tataniaga Pala. Jakarta: Penebar Swadaya.

[USDA-FAS] United States Department of Agriculture – Foreign Agricultural Service (2010) Japan: Maximum Residue Limits and Mycotoxin Standards for Food. Washington DC: USDA-FAS.

Walid, M., Ahmad, B. and Hussain, M. (2014) 'Mycotoxin contamination in spices: occurrence, regulation, and control strategies', Journal of Food Safety, 36(2), pp. 145–157.


Refbacks

  • There are currently no refbacks.


_______________________________________________

 

Creative Commons License

Prosiding Seminar Nasional Pertanian
is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License

______________________________________________

PROSIDING TERINDEKS:

 

SEKRETARIAT PANITIA: