Sosialisasi Pencegahan Penularan dan Pemberantasan Pedikulosis Kapitis di Desa Pabuaran, Provinsi Banten
Abstract
Abstract: Pabuaran Village still faces health problems, one of which is pediculosis capitis. Therefore, this community service activity aims to diagnose pediculosis, carry out management and provide education in the form of counseling to Pabuaran Village residents, especially children and adolescents. Pediculosis eradication was carried out in January 2026 with a primary target of 40 people. Of the total children and adolescents examined, 29 children tested positive for pediculosis, so it can be interpreted that the prevalence of pediculosis in Pabuaran Village is 72.5%. There are 25 girls (62.5%) in Pabuaran Village who tested positive for pediculosis. In this activity, education was provided regarding the prevention of pediculosis capitis. Knowledge about Pediculosis Capitis plays a crucial role in preventing transmission to others. The educational material provided to residents included symptoms, transmission methods, complications, and management of pediculosis capitis. Pediculosis transmission can occur due to poor health behaviors, one of which is the habit of rarely washing hair. Children infested with head lice were given 1% permethrin shampoo and combed using the wet combing method. Pabuaran Village has a densely populated environment that facilitates the transmission of head lice. Therefore, awareness among all villagers is needed to maintain their health and prevent the spread of head lice.
Abstrak: Desa Pabuaran masih memiliki masalah kesehatan, salah satunya pedikulosis kapitis. Untuk itu, kegiatan pengabdian masyarakat ini ditujukan untuk mendiagnosis pedikulosis, melakukan tata laksana dan edukasi berupa penyuluhan kepada warga Desa Pabuaran, khususnya anak-anak dan remaja. Pemberantasan pedikulosis dilakukan pada bulan Januari 2026 dengan sasaran utama sebanyak 40 orang. Dari keseluruhan anak dan remaja yang diperiksa, terdapat 29 anak yang positif pedikulosis, sehingga dapat diinterpretasikan bahwa prevalensi pedikulosis di Desa Pabuaran sebesar 72,5%. Terdapat 25 anak perempuan (62,5%) di Desa Pabuaran yang positif pedikulosis. Pada kegiatan ini dilakukan edukasi mengenai pencegahan pedikulosis kapitis, sehingga transmisinya dapat dicegah. Pengetahuan mengenai pedikulosis kapitis memiliki peran penting dalam mencegah terjadinya penularan kepada orang lain. Materi edukasi yang diberikan pada warga berupa gejala, cara penularan, komplikasi dan tata laksana pedikulosis kapitis. Transmisi pedikulosis dapat terjadi akibat perilaku kesehatan yang buruk, salah satunya kebiasaan jarang membersihkan rambut. Anak-anak yang terinfestasi tuma diberikan sampo permethrin 1% dan dilakukan penyisiran dengan metode wet combing. Desa Pabuaran memiliki lingkungan padat penghuni yang memudahkan transmisi tuma. Oleh karena itu, diperlukan kesadaran bagi seluruh warga desa untuk menjaga kesehatan dan mencegah penularan penyakit kutu rambut.Keywords
Full Text:
PDFReferences
Abdel-Moein KA, Hamza DA. (2023). Pediculus capitis: an overview. Benha J Appl Sci; 8: 13-22
Alatas, Sahar SS, Linuwih S. (2013). Hubungan Tingkat pengetahuan mengenai pediculosis kapitis dengan karakteristik demografi santri pesantren X, Jakarta Timur. eJKI, vol (1) 53-57.
Amrainum D, Nanda M. (2025). Faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian pediculosis kapitis pada santriwati pondok pesantren Dairi. J Kes Tambusai. https://doi.org/10.31004/jkt.v6i3.49665
Angelia A, Sutanto IK, Susanto DH, Kristen U, Wacana K. (2022). Studi prevalensi pediculosis kapitis di pondok pesantren X Jakarta Barat; 29 (2): 129-37
Apet R, Prakash L, Shewale KH, Jawade S, Dhamecha R. (2020). Treatment modalities of pediculosis capitis: A narrative review. Cureus 15(9):e45028
Buana R, Widjaja Y, Novendy. (2021). Upaya peningkatan kebersihan diri dalam mencegah pediculosis kapitis. Prodi Profesi Dokter. Fakultas Kedokteran. Universitas Tarumanagara.
Cahyani UR, Mulianingsih W, Nirmala S, Mariam L. (2024). Hubungan usia, jenis kelamin, dan personal hygiene dengan kejadian pediculosis kapitis pada siswa dan siswa SDN 44 Cakranegara. MAHESA Malahayati Heal Student J; 4(7): 3078-92
Chosidow O, Giraudeau B, et al. (2022). Management of head lice infestation. Lancet Infect Dis; 22 (8); e256-65.
Komariah A, Rifayanto RP. (2024). Penguatan Kesadaran Sejak Dini pediculosis kapitis dalam peningkatan prestasi anak sekolah dini di lingkungan TPAS Cilowong. Jurnal peduli Masyarakat. Vol 6 no 1.
Maryanti E, Lestari E. (2020). Pendidikan kesehatan dalam rangka menuju panti asuhan bebas pediculosis kapitis di Kecamatan Siak Hulu Kabupaten Kampar. Riau Journal of empowerment 3(2): 97-103 https://doi.org/10.31258/raje.3.2.97-103
Pemerintah Kabupaten Serang. (2021). Hasil analisis data pengukuran stunting per desa di Kecamatan Pabuaran, Kabupaten Serang tahun 2018-2021. Diakses pada 19 Januari 2026. https://serangkab.go.id/berita/grafik-prevalensi-balita-stunting.
Prakasita KA, Murtiastutik D, Rahmi AM, Kumalasari DN. (2024). A case of pediculosis capitis complicated by secondary infection and anemia. Journal of mycology and infection; 29(1): 15-18
Rosyidi VA, Sutejo IR. (2021). Upaya pemberantasan kutu rambut santri. Pelatihan produksi sampo antiketombe dan wirausaha barbershop. INDRA – Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat, 2(1), 22-26. 10.29303/indra.v2i1.48
Sari Rohmaniah, Eska Dwi Prajayanti. (2022). Hubungan pengetahuan dan sikap tentang personal hygiene pada santriwati dengan kejadian pediculosis kapitis di pondok pesantren Al-Manshur Popongan. SEHATMAS; Jurnal Ilmiah Kesehatan Masyarakat; 1(4):561-8
Trasia RF. (2023). Prevalence of pediculosis capitis in Indonesia. Insight in public health journal, 3(1). https://doi.org/10.20884/1.iphj.2022.3.1.4936
DOI: https://doi.org/10.31764/am.v5i3.37821
Refbacks
- There are currently no refbacks.
EDITORIAL OFFICE:



