PERBANDINGAN SISTEM SOSIAL BUDAYA INDONESIA DARI MASYARAKAT MAJEMUK KE MASYARAKAT MULTIKULTURAL

Saddam Saddam, Ilmiawan Mubin, Dian Eka Mayasari S.W., Naning Dwi Sulystyaningsih, Ismi Arifiana Rahmandari, Risdiana Risdiana

Abstract


Abstrak: Tujuan penulisan menyajikan konsep ke-Indonesia-an secara menyeluruh sejak sebelum merdeka hingga setelah kemerdekaan. Mengkaji sistem sosial budaya Indonesia zaman penjajahan Belanda dan setelah kemerdekaan dari konsep masyarakat mejemuk dan masyarakat multikultural. Penelitian ini menggunakan library research. Data dikumpulkan menggunakan dokumentasi berupa buku, makalah, artikel, dan jurnal relevan. Analisis data menggunakan content analysis, untuk mendapatkan infensi valid dan dapat diteliti kembali berdasarkan konteksnya. Pengecekan antar pustaka dan membaca kembali pustaka dilakukan guna menjaga keaslian dan kesalahan hasil kajian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada masa penjajahan Belanda selalu diupayakan memperkuat dan membentuk lagi masyarakat Indonesia berdasarkan habituasi masing-masing antar suku, budaya, agama, dan adat-istiadat. Belanda menggunakan potensi yang ada dalam masyarakat untuk memperkuat maksud tertentu, hingga mengarahkan masyarakat Indonesia memperkuat kemajemukan. Masyarakat majemuk merupakan suatu masyarakat yang hidup secara berkelompok secara terpisah berdasarkan suku, agama, ras dan kelas sosial dengan corak khas tertentu. Rasialis menjadi hal yang dilestarikan dalam masyarakat majemuk secara mendasar. Masyarakat multikultural adalah suatu kondisi masyarakat majemuk yang telah tercapai sebuah keteraturan dan keharmonisan dalam masyarakat, dengan banyaknya diferensiasi sosial masyarakat tercipta suatu keharmonisan, saling menghargai, kesederajatan dan mempunyai kesadaran tanggungjawab sebagai satu kesatuan.

Abstract: The purpose of writing presents the concept of Indonesia as a whole from before independence until after independence. Reviewing the Indonesian socio-cultural system during the Dutch colonial era and after independence from the concept of a rich society and multicultural society. This study uses library research. Data is collected using documentation in the form of books, papers, articles, and relevant journals. Data analysis uses content analysis, to obtain valid inferences and can be re-examined based on the context. Checking between libraries and rereading libraries is done to maintain the authenticity and errors of the study results. The results showed that during the Dutch colonial period was always sought to strengthen and reshape Indonesian society based on their respective habituation between tribes, cultures, religions, and customs. The Dutch used the potential in society to strengthen certain intentions, to direct the Indonesian people to strengthen diversity. Compound society is a society that lives in groups separately based on ethnicity, religion, race, and social class with a certain distinctive pattern. Racists are fundamentally preserved in compound society. A multicultural society is a condition of compound society that has been achieved a regularity and harmony in society, with much social differentiation of the community created a harmony, mutual respect, equality and awareness of responsibility as a whole.


Keywords


Perbandingan; Sosial Budaya; Majemuk; Multikultural.

Full Text:

PDF

References


Al-Ghaaruty, F. (2010). Studi Dokumen Dalam Penelitian Kualitatif. Jurnal Sains Dan Inovasi.

Farida, I. (2010). Studi Dokumen Dalam Penelitian Kualitatif. Jurnal Sains Dan Inovasi.

Furnivall, J. S. (2014). Colonial policy and practice. Cambridge University Press.

Gani, A. A., & Saddam, S. (2020). Pembelajaran Interaktif Pendidikan Kewarganegaraan Melalui Mobile Learning di Era Industri 4.0. CIVICUS: Pendidikan-Penelitian-Pengabdian Pendidikan Pancasila Dan Kewarganegaraan, 8(1), 36–42.

Geertz, C. (2010). The Near East in the Far East. Life among the Anthros and Other Essays, 169–184.

Geertz, H. (1981). Aneka Budaya dan Komunitas di Indonesia (terj.). Jakarta: Yayasan Ilmu-Ilmu Sosial & FS UI.

Giannantonio, C. M. (2010). Content Analysis: An Introduction to Its Methodology (2nd ed.). Organizational Research Methods.

Jamrozik, A. (2004). The chains of colonial inheritance: searching for identity in a subservient nation. UNSW Press.

Khatibah, K. (2011). Penelitian kepustakaan. Iqra’: Jurnal Perpustakaan Dan Informasi, 5(01), 36–39.

Koentjaraningrat. (2010). “Manusia dan Kebudayaan Di Indonesia.” Djambatan.

Krippendorff, K. (2010). Content Analysis: An Introduction to Its Methodology (2nd ed.). Organizational Research Methods.

Lan, T. J., & Manan, M. (2011). Nasionalisme dan Ketahanan Budaya di Indonesia: Sebuah Tantangan. Yayasan Pustaka Obor Indonesia.

Manullang, M. (2019). Misi dalam Masyarakat Majemuk. Jurnal Teologi Cultivation, 3(2), 49–63.

Mirzaqon, A. T., & Purwoko, B. (2017). Studi Kepustakaan Mengenai Landasan Teori Dan Praktik Konseling Expressive Writing Library. Jurnal BK UNESA.

Mirzaqon T, A. (2017). Studi Kepustakaan Mengenai Landasan Teori dan Praktik Konseling Expressive Writing. Jurnal BK Unesa, 8(1).

Nasikun. (2003). Sistem Sosial Indonesia. RajaGrafindo Persada.

Noorzeha, F., Fil, S., Noorzeha, F., & Fil, S. (2020). PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN.

Rahardjo, H. M. (2010). Triangulasi dalam Penelitian Kualitatif.

Rani, K., & Purwoko, B. (2012). LIBRARY RESEARCH OF THE BASIC THEORY AND PRACTICE OF NEURO LINGUISTIC PROGRAMMING COUNSELING Rani. Journal Marketing.

Ruslan, I. (2020). Kontribusi Lembaga-Lembaga Keagamaan dalam Pengembangan Toleransi Antar Umat Beragama di Indonesia. Arjasa Pratama.

Saad, I. (1980). Competing identities in a plural society: The case of peninsular Malaysia. Institute of Southeast Asian.

Seru, S. (2020). Pengembangan Apologetika Kontekstual Untuk Memberitakan Kabar Baik Kepada Masyarakat Majemuk.

Shelley, M., & Krippendorff, K. (1984). Content Analysis: An Introduction to its Methodology. Journal of the American Statistical Association. https://doi.org/10.2307/2288384

Sugiyono. (2013). Metode Penelitian Pendidikan Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, dan R dan D. Bandung: Alfabeta.

Sugiyono. (2014). Metode Penelitian Pendidikan:(Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif dan R & D). Alfabeta.

Suharsimi, A. (2013). Prosedur Penelitian, Jakarta: PT. Rineka Cipta, 201:274.

Suparlan, P. (2004). Masyarakat Majemuk, Masyarakat Multikultural, dan Minoritas: Memperjuangakan Hak-hak Minoritas. Makalah Dalam Workshop Yayasan Interseksi, Hak-Hak Minoritas Dalam Landscape Multikultural, Mungkinkah Di Indonesia.

Suparlan, P. (2014). Menuju masyarakat Indonesia yang multikultural. Antropologi Indonesia.

Sutrisno, M., & Putranto, H. (2005). Teori-teori kebudayaan. Kanisius.

Umanailo, M. C. B., Nawawi, M., & Pulhehe, S. (2018). Konsumsi Menuju Konstruksi Masyarakat Konsumtif. Simulacra, 1(2), 203–212.

Wafi, M. S. (2017). Islam dan Nasionalisme dalam Konstruksi NKRI.

Wasino. (2011). Multikulturalisme dalam Perspektif Sejarah Sosial. Seminar Multikulturalisme Dan Integrasi Bangsa Dalam Pembangunan Kebudayaan Dan Pariwisata (Kementerian Kebudayaan Dan Pariwisata).

Wasino. (2015). Modernisasi Budaya Politik Mangkunegaran. Sejarah Dan Budaya.

Wasino, W. (2013). Indonesia: from Pluralism to Multiculturalism. Paramita: Historical Studies Journal, 23(2), 3.

Zed, M. (2014). Metode peneletian kepustakaan. Yayasan Obor Indonesia.




DOI: https://doi.org/10.31764/historis.v5i2.3424

Refbacks

  • There are currently no refbacks.


ALAMAT REDAKSI:
Program Studi Pendidikan Sejarah
Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP)
Universitas Muhammadiyah Mataram